Suatu hari yang cerah. Matahari membakar kulit seorang pemuda berambut hitam, panjang, dan berantakan. Rambutnya tersebut bahkan telah merambat dengan liarnya menutupi sebagian besar wajahnya. Dia terbaring lemas di bulir-bulir pantai. Terganggu dengan terangnya sinar matahari, pemuda itu kemudian membuka matanya dengan berat. Dia menatap langit biru berawan, masih dalam keadaan terbaring, dengan tangan setengah menghalau silaunya matahari.
Sang pemuda bangkit dan duduk. Matanya menerawang ke berbagai sisi, menyapu keadaan sekeliling dengan pandangan heran. Dilihatnya hamparan pasir putih terbentang, air laut yang berkerlip memantulkan cahaya, serta pepohonan rapat yang membatasi hamparan pasir putih itu.
Pikirannya menerawang mengingat-ingat kejadian yang menimpanya. Kosong! Tak ada satu pun yang dapat diingatnya.
Ini di mana? tanya sang pemuda dalam hati.
Sang pemuda memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia telah memutuskan bahwa dia tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaannya jika dia terus berlama-lama di tempatnya berada sekarang. Ia pun mengarahkan langkah kakinya berjalan langsung menuju ke arah hutan.
Satu demi satu dedaunan hutan disibakkan. Derap langkah kaki terus menapak di kelembaban tanah hutan dan kini langkah kaki itu telah menjadi teramat berat untuk dipaksa terus melangkah. Pemuda itu kemudian memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar nan rindang. Dia duduk di antara akar-akar pohon yang menjalar. Tidak beberapa lama ia pun tertidur.
Sang pemuda bangkit dan duduk. Matanya menerawang ke berbagai sisi, menyapu keadaan sekeliling dengan pandangan heran. Dilihatnya hamparan pasir putih terbentang, air laut yang berkerlip memantulkan cahaya, serta pepohonan rapat yang membatasi hamparan pasir putih itu.
Pikirannya menerawang mengingat-ingat kejadian yang menimpanya. Kosong! Tak ada satu pun yang dapat diingatnya.
Ini di mana? tanya sang pemuda dalam hati.
Sang pemuda memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia telah memutuskan bahwa dia tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaannya jika dia terus berlama-lama di tempatnya berada sekarang. Ia pun mengarahkan langkah kakinya berjalan langsung menuju ke arah hutan.
Satu demi satu dedaunan hutan disibakkan. Derap langkah kaki terus menapak di kelembaban tanah hutan dan kini langkah kaki itu telah menjadi teramat berat untuk dipaksa terus melangkah. Pemuda itu kemudian memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar nan rindang. Dia duduk di antara akar-akar pohon yang menjalar. Tidak beberapa lama ia pun tertidur.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home