LUMINOSKA

Dunia Baru, Keajaiban Baru

Wednesday, February 4, 2009

Terdengar sayup-sayup suara merdu dari tengah hutan, alunan nada yang sangat indah yang menyejukkan hatinya. Sang pemuda telelap dalam buaian suara merdu itu dan bermimpi bertemu dengan seorang manusia wanita cantik di hutan itu, memetik sebuah alat musik berdawai dan bernyanyi menyanyikan lagu indah dalam bahasa aneh yang kira-kira artinya sebagai berikut*) :

Tidurlah, lelaplah dalam kesunyianmu
Lupakan, abaikan segala kesedihanmu
Hilangkan, musnahkan masa lalumu....

Dan tiba-tiba mata wanita itu melotot kepadanya, wajahnya menjadi merah padam seperti sedang marah dan rambutnya yang panjang terurai itu menjadi berkibar-kibar seperti tertiup angin. Kulitnya wajahnya perlahan-lahan mengelupas dan menjadi sosok lain yang bukan manusia, berkulit putih seperti salju. Rambut hitamnya juga memutih. Hal itu sangat membuat pemuda itu ketakutan sehingga ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sambil memutuskan beberapa dawai alat musiknya, sosok itu berseru **):

Dan jangan kembali lagi kepadanya!

Maka terkejutlah sang pemuda dan terbangun dari tidurnya. Di depannya sudah berdiri seorang wanita yang sama persis seperti yang ada si dalam mimpinya menyapa, "Wahai kau, pengembara, maafkan aku telah mengejutkanmu dan mengganggu tidurmu dengan permainan musikku. Siapa namamu?" Tanya wanita itu sambil mendekatinya dan duduk di hadapannya.

"Nama?" Pemuda itu tampak ketakutan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Takut kalau-kalau mimpinya itu menjadi kenyataan dan wanita itu berubah menjadi sosok mengerikan.

"Iya... Siapa?" kata wanita itu dengan lembut. "Jangan takut! Katakan siapa?"

"Siapa?" Perlahan ia membuka telapak tangannya. Dipandangnya wajah cantik wanita itu dan hilanglah semua ketakutannya.

"Namamu! Namamu siapa?" Tanya wanita itu lagi menyeka rambut yang menutupi sebagian wajah sang pemuda.

"Namamu siapa?" Kata sang pemuda mengulangi pertanyaan itu.

"Iya, namamu siapa?" Wanita itu merasa jengkel, mencoba menahan emosinya dan bergumam dalam bahasa lain, "Argh!Pethin thaid adu gasi wedheksi Kuro.***)"

"Kuro?"

"Nah, itu saja! Seperti nama seorang pahlawan besar di Luminoska. Namaku Dejong dari kota Stebroer."

"Dejong? Stebroer?"

"Ya. Panggil saja aku Dejong. Aku juga pengembara sepertimu." Kemudian Dejong memeriksa wajah, tangan dan kaki Kuro sambil bertanya, "Apakah kau terluka?" Tetapi Kuro tidak menjawab. Setelah yakin Kuro tidak terluka berkatalah ia, "Kau pasti lelah karena sepertinya kau sudah menempuh perjalanan jauh. Ikutlah denganku ke sungai kecil di balik semak-semak itu. Di sana kau bisa membersihkan diri dan menghilangkan dahagamu." Kemudian Dejong membantu Kuro berdiri dan menuntunnya berjalan. Dan berjalanlah keduanya beriringan menyusuri hutan itu ke arah sebuah sungai kecil yang merupakan anak dari Sungai Emas, yang di hulunya - di Pegunungan Berantai - terdapat sebuah tambang emas.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home