Dari sebuah batu di tengah sungai yang tidak begitu dalam, Kuro terus memperhatikan aliran sungainya, menembus ke dalam isinya. Bola mata Kuro bergerak mengikuti ikan-ikan yang berputar-putar.
Kuro meloncat, menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dia mengibaskan tangannya dan seeokor ikan terlempar ke udara. Tanpa mempedulikan ikan itu, Kuro kembali melompat saat matanya menangkap gerakan ikan di sudut sungai yang lainnya. Kembali seekor ikan terhempas keluar. Kuro terus melakukan hal tersebut tanpa mempedulikan seberapa banyak ikan yang telah ia lontarkan. Walaupun ikan-ikan yang ia lontarkan ke pinggir sungai semakin menumpuk, Kuro nampak terlihat belum puas dengan hal itu.
"Kuro!", teriak seorang wanita dari pinggir sungai. Di depannya api unggun telah menyala terang, bersaing dengan cahaya dari langit sore. Cahaya keperakan dari Argentin, bulan yang menampakkan dirinya di sisi timur daratan Luminoska, mulai merajai langit. "Ikannya terlalu banyak!"
Kuro tidak mempedulikan teriakan wanita itu. Dia terus saja asyik melontarkan ikan-ikan dengan ganas.
Kuro kembali melompat ketika matanya menangkap kelebat bayangan ikan. Tangannya telah terjulur ke arah ikan itu. Tapi saat Kuro hendak menyentuh air, ombak tercipta dan menyapunya ke pinggir sungai. Mata Kuro berkedip-kedip kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba tercipta ombak di sungai yang tenang.
"Aku bisa gila kalau kau terus bertingkah aneh!"
Suara Dejong, pikir Kuro. Dia lalu menoleh ke arah suara berasal. Dia menatap Dejong dengan bingung. Kuro tidak mengerti kenapa Dejong terlihat marah-marah padanya.
Dejong menggumamkan kata-kata aneh yang tidak dimengerti Kuro. Sesuatu hal aneh pasti akan terjadi setiap Kuro mendengar gumaman aneh Dejong. Setelah Dejong selesai menggumamkan kata-kata aneh itu, setengah dari tumpukan ikan tangkapan Kuro terhempas kembali ke sungai. Kuro terkejut dan dengan segera melompat, berusaha menyelamatkan ikan-ikan yang di tangkapnya. Tapi hanya beberapa saja yang dapat ditampung oleh tangannya. Kuro meratapi ikan-ikannya yang telah kembali ke sungai.
"Kau tidak mungkin memakan itu semua, kan?"
Kuro masih menatap aliran sungai.
"Ayolah. Aku hanya membuang setengahnya. Kau bahkan bisa jadi saudagar penjual ikan dengan ikan yang tersisa ini."
Kuro tetap menatap aliran sungai dengan sedih.
Sebuah kerikil tiba-tiba membentur kepala Kuro. "Sini!"
Kuro akhirnya berhenti menatap aliran sungai dan berjalan ke arah api unggun, tempat di mana Dejong duduk untuk menghangatkan badannya. Tumpukan ikan yang tadi ditangkap Kuro berada tidak jauh dari api unggun tersebut. Tangan Kuro menyabet sebuah ikan di tumpukan itu dan langsung memakannya.
Dejong menatap Kuro dengan wajah yang dipahami Kuro sebagai tanda-tanda bahwa sebentar lagi Dejong akan memarahinya. Tapi kemudian wajah Dejong berubah menjadi lebih tenang. Dejong lalu menghembuskan nafasnya dengan letih. "Padahal susah-susah aku membakarkan ikan ini untukmu". Dejong lalu mencabut ikan yang ada di hadapannya, ikan yang telah ditusuk oleh ranting kecil hingga menembus tubuhnya. "Cobalah!" Dejong menyodorkan ikan itu pada Kuro.
Kuro menatapnya dengan bingung. Tubuh ikan itu mengeluarkan asap. Kuro tidak pernah melihat ikan yang dapat mengeluarkan asap dari tubuhnya. Kuro menyentuh ikan itu dan dirasakannya panas yang menjalari jari telunjuknya.
"Yang ini lebih enak", kata Dejong, meyakinkan. Kuro mengambil ikan itu dan langsung menggigitnya. Mulut Kuro mengatup-ngatup liar. Ikannya panas. Sejenak kemudian dia mendengar Dejong tertawa kecil. "Kau lucu juga."
"Juga?"
"Ah, terserah kau. Besok siang kita akan mencapai Lira."
"Lira?"
"Dikota itu ada banyak makanan enak. Kau pasti suka."
Kuro meloncat, menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dia mengibaskan tangannya dan seeokor ikan terlempar ke udara. Tanpa mempedulikan ikan itu, Kuro kembali melompat saat matanya menangkap gerakan ikan di sudut sungai yang lainnya. Kembali seekor ikan terhempas keluar. Kuro terus melakukan hal tersebut tanpa mempedulikan seberapa banyak ikan yang telah ia lontarkan. Walaupun ikan-ikan yang ia lontarkan ke pinggir sungai semakin menumpuk, Kuro nampak terlihat belum puas dengan hal itu.
"Kuro!", teriak seorang wanita dari pinggir sungai. Di depannya api unggun telah menyala terang, bersaing dengan cahaya dari langit sore. Cahaya keperakan dari Argentin, bulan yang menampakkan dirinya di sisi timur daratan Luminoska, mulai merajai langit. "Ikannya terlalu banyak!"
Kuro tidak mempedulikan teriakan wanita itu. Dia terus saja asyik melontarkan ikan-ikan dengan ganas.
Kuro kembali melompat ketika matanya menangkap kelebat bayangan ikan. Tangannya telah terjulur ke arah ikan itu. Tapi saat Kuro hendak menyentuh air, ombak tercipta dan menyapunya ke pinggir sungai. Mata Kuro berkedip-kedip kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba tercipta ombak di sungai yang tenang.
"Aku bisa gila kalau kau terus bertingkah aneh!"
Suara Dejong, pikir Kuro. Dia lalu menoleh ke arah suara berasal. Dia menatap Dejong dengan bingung. Kuro tidak mengerti kenapa Dejong terlihat marah-marah padanya.
Dejong menggumamkan kata-kata aneh yang tidak dimengerti Kuro. Sesuatu hal aneh pasti akan terjadi setiap Kuro mendengar gumaman aneh Dejong. Setelah Dejong selesai menggumamkan kata-kata aneh itu, setengah dari tumpukan ikan tangkapan Kuro terhempas kembali ke sungai. Kuro terkejut dan dengan segera melompat, berusaha menyelamatkan ikan-ikan yang di tangkapnya. Tapi hanya beberapa saja yang dapat ditampung oleh tangannya. Kuro meratapi ikan-ikannya yang telah kembali ke sungai.
"Kau tidak mungkin memakan itu semua, kan?"
Kuro masih menatap aliran sungai.
"Ayolah. Aku hanya membuang setengahnya. Kau bahkan bisa jadi saudagar penjual ikan dengan ikan yang tersisa ini."
Kuro tetap menatap aliran sungai dengan sedih.
Sebuah kerikil tiba-tiba membentur kepala Kuro. "Sini!"
Kuro akhirnya berhenti menatap aliran sungai dan berjalan ke arah api unggun, tempat di mana Dejong duduk untuk menghangatkan badannya. Tumpukan ikan yang tadi ditangkap Kuro berada tidak jauh dari api unggun tersebut. Tangan Kuro menyabet sebuah ikan di tumpukan itu dan langsung memakannya.
Dejong menatap Kuro dengan wajah yang dipahami Kuro sebagai tanda-tanda bahwa sebentar lagi Dejong akan memarahinya. Tapi kemudian wajah Dejong berubah menjadi lebih tenang. Dejong lalu menghembuskan nafasnya dengan letih. "Padahal susah-susah aku membakarkan ikan ini untukmu". Dejong lalu mencabut ikan yang ada di hadapannya, ikan yang telah ditusuk oleh ranting kecil hingga menembus tubuhnya. "Cobalah!" Dejong menyodorkan ikan itu pada Kuro.
Kuro menatapnya dengan bingung. Tubuh ikan itu mengeluarkan asap. Kuro tidak pernah melihat ikan yang dapat mengeluarkan asap dari tubuhnya. Kuro menyentuh ikan itu dan dirasakannya panas yang menjalari jari telunjuknya.
"Yang ini lebih enak", kata Dejong, meyakinkan. Kuro mengambil ikan itu dan langsung menggigitnya. Mulut Kuro mengatup-ngatup liar. Ikannya panas. Sejenak kemudian dia mendengar Dejong tertawa kecil. "Kau lucu juga."
"Juga?"
"Ah, terserah kau. Besok siang kita akan mencapai Lira."
"Lira?"
"Dikota itu ada banyak makanan enak. Kau pasti suka."

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home