LUMINOSKA

Dunia Baru, Keajaiban Baru

Thursday, February 19, 2009

Dari sebuah batu di tengah sungai yang tidak begitu dalam, Kuro terus memperhatikan aliran sungainya, menembus ke dalam isinya. Bola mata Kuro bergerak mengikuti ikan-ikan yang berputar-putar.

Kuro meloncat, menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dia mengibaskan tangannya dan seeokor ikan terlempar ke udara. Tanpa mempedulikan ikan itu, Kuro kembali melompat saat matanya menangkap gerakan ikan di sudut sungai yang lainnya. Kembali seekor ikan terhempas keluar. Kuro terus melakukan hal tersebut tanpa mempedulikan seberapa banyak ikan yang telah ia lontarkan. Walaupun ikan-ikan yang ia lontarkan ke pinggir sungai semakin menumpuk, Kuro nampak terlihat belum puas dengan hal itu.

"Kuro!", teriak seorang wanita dari pinggir sungai. Di depannya api unggun telah menyala terang, bersaing dengan cahaya dari langit sore. Cahaya keperakan dari Argentin, bulan yang menampakkan dirinya di sisi timur daratan Luminoska, mulai merajai langit. "Ikannya terlalu banyak!"

Kuro tidak mempedulikan teriakan wanita itu. Dia terus saja asyik melontarkan ikan-ikan dengan ganas.

Kuro kembali melompat ketika matanya menangkap kelebat bayangan ikan. Tangannya telah terjulur ke arah ikan itu. Tapi saat Kuro hendak menyentuh air, ombak tercipta dan menyapunya ke pinggir sungai. Mata Kuro berkedip-kedip kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba tercipta ombak di sungai yang tenang.

"Aku bisa gila kalau kau terus bertingkah aneh!"

Suara Dejong, pikir Kuro. Dia lalu menoleh ke arah suara berasal. Dia menatap Dejong dengan bingung. Kuro tidak mengerti kenapa Dejong terlihat marah-marah padanya.

Dejong menggumamkan kata-kata aneh yang tidak dimengerti Kuro. Sesuatu hal aneh pasti akan terjadi setiap Kuro mendengar gumaman aneh Dejong. Setelah Dejong selesai menggumamkan kata-kata aneh itu, setengah dari tumpukan ikan tangkapan Kuro terhempas kembali ke sungai. Kuro terkejut dan dengan segera melompat, berusaha menyelamatkan ikan-ikan yang di tangkapnya. Tapi hanya beberapa saja yang dapat ditampung oleh tangannya. Kuro meratapi ikan-ikannya yang telah kembali ke sungai.

"Kau tidak mungkin memakan itu semua, kan?"

Kuro masih menatap aliran sungai.

"Ayolah. Aku hanya membuang setengahnya. Kau bahkan bisa jadi saudagar penjual ikan dengan ikan yang tersisa ini."

Kuro tetap menatap aliran sungai dengan sedih.

Sebuah kerikil tiba-tiba membentur kepala Kuro. "Sini!"

Kuro akhirnya berhenti menatap aliran sungai dan berjalan ke arah api unggun, tempat di mana Dejong duduk untuk menghangatkan badannya. Tumpukan ikan yang tadi ditangkap Kuro berada tidak jauh dari api unggun tersebut. Tangan Kuro menyabet sebuah ikan di tumpukan itu dan langsung memakannya.

Dejong menatap Kuro dengan wajah yang dipahami Kuro sebagai tanda-tanda bahwa sebentar lagi Dejong akan memarahinya. Tapi kemudian wajah Dejong berubah menjadi lebih tenang. Dejong lalu menghembuskan nafasnya dengan letih. "Padahal susah-susah aku membakarkan ikan ini untukmu". Dejong lalu mencabut ikan yang ada di hadapannya, ikan yang telah ditusuk oleh ranting kecil hingga menembus tubuhnya. "Cobalah!" Dejong menyodorkan ikan itu pada Kuro.

Kuro menatapnya dengan bingung. Tubuh ikan itu mengeluarkan asap. Kuro tidak pernah melihat ikan yang dapat mengeluarkan asap dari tubuhnya. Kuro menyentuh ikan itu dan dirasakannya panas yang menjalari jari telunjuknya.

"Yang ini lebih enak", kata Dejong, meyakinkan. Kuro mengambil ikan itu dan langsung menggigitnya. Mulut Kuro mengatup-ngatup liar. Ikannya panas. Sejenak kemudian dia mendengar Dejong tertawa kecil. "Kau lucu juga."

"Juga?"

"Ah, terserah kau. Besok siang kita akan mencapai Lira."

"Lira?"

"Dikota itu ada banyak makanan enak. Kau pasti suka."

Wednesday, February 4, 2009

Terdengar sayup-sayup suara merdu dari tengah hutan, alunan nada yang sangat indah yang menyejukkan hatinya. Sang pemuda telelap dalam buaian suara merdu itu dan bermimpi bertemu dengan seorang manusia wanita cantik di hutan itu, memetik sebuah alat musik berdawai dan bernyanyi menyanyikan lagu indah dalam bahasa aneh yang kira-kira artinya sebagai berikut*) :

Tidurlah, lelaplah dalam kesunyianmu
Lupakan, abaikan segala kesedihanmu
Hilangkan, musnahkan masa lalumu....

Dan tiba-tiba mata wanita itu melotot kepadanya, wajahnya menjadi merah padam seperti sedang marah dan rambutnya yang panjang terurai itu menjadi berkibar-kibar seperti tertiup angin. Kulitnya wajahnya perlahan-lahan mengelupas dan menjadi sosok lain yang bukan manusia, berkulit putih seperti salju. Rambut hitamnya juga memutih. Hal itu sangat membuat pemuda itu ketakutan sehingga ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sambil memutuskan beberapa dawai alat musiknya, sosok itu berseru **):

Dan jangan kembali lagi kepadanya!

Maka terkejutlah sang pemuda dan terbangun dari tidurnya. Di depannya sudah berdiri seorang wanita yang sama persis seperti yang ada si dalam mimpinya menyapa, "Wahai kau, pengembara, maafkan aku telah mengejutkanmu dan mengganggu tidurmu dengan permainan musikku. Siapa namamu?" Tanya wanita itu sambil mendekatinya dan duduk di hadapannya.

"Nama?" Pemuda itu tampak ketakutan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Takut kalau-kalau mimpinya itu menjadi kenyataan dan wanita itu berubah menjadi sosok mengerikan.

"Iya... Siapa?" kata wanita itu dengan lembut. "Jangan takut! Katakan siapa?"

"Siapa?" Perlahan ia membuka telapak tangannya. Dipandangnya wajah cantik wanita itu dan hilanglah semua ketakutannya.

"Namamu! Namamu siapa?" Tanya wanita itu lagi menyeka rambut yang menutupi sebagian wajah sang pemuda.

"Namamu siapa?" Kata sang pemuda mengulangi pertanyaan itu.

"Iya, namamu siapa?" Wanita itu merasa jengkel, mencoba menahan emosinya dan bergumam dalam bahasa lain, "Argh!Pethin thaid adu gasi wedheksi Kuro.***)"

"Kuro?"

"Nah, itu saja! Seperti nama seorang pahlawan besar di Luminoska. Namaku Dejong dari kota Stebroer."

"Dejong? Stebroer?"

"Ya. Panggil saja aku Dejong. Aku juga pengembara sepertimu." Kemudian Dejong memeriksa wajah, tangan dan kaki Kuro sambil bertanya, "Apakah kau terluka?" Tetapi Kuro tidak menjawab. Setelah yakin Kuro tidak terluka berkatalah ia, "Kau pasti lelah karena sepertinya kau sudah menempuh perjalanan jauh. Ikutlah denganku ke sungai kecil di balik semak-semak itu. Di sana kau bisa membersihkan diri dan menghilangkan dahagamu." Kemudian Dejong membantu Kuro berdiri dan menuntunnya berjalan. Dan berjalanlah keduanya beriringan menyusuri hutan itu ke arah sebuah sungai kecil yang merupakan anak dari Sungai Emas, yang di hulunya - di Pegunungan Berantai - terdapat sebuah tambang emas.

Tuesday, February 3, 2009

Suatu hari yang cerah. Matahari membakar kulit seorang pemuda berambut hitam, panjang, dan berantakan. Rambutnya tersebut bahkan telah merambat dengan liarnya menutupi sebagian besar wajahnya. Dia terbaring lemas di bulir-bulir pantai. Terganggu dengan terangnya sinar matahari, pemuda itu kemudian membuka matanya dengan berat. Dia menatap langit biru berawan, masih dalam keadaan terbaring, dengan tangan setengah menghalau silaunya matahari.

Sang pemuda bangkit dan duduk. Matanya menerawang ke berbagai sisi, menyapu keadaan sekeliling dengan pandangan heran. Dilihatnya hamparan pasir putih terbentang, air laut yang berkerlip memantulkan cahaya, serta pepohonan rapat yang membatasi hamparan pasir putih itu.

Pikirannya menerawang mengingat-ingat kejadian yang menimpanya. Kosong! Tak ada satu pun yang dapat diingatnya.

Ini di mana? tanya sang pemuda dalam hati.

Sang pemuda memaksakan dirinya untuk berdiri. Dia telah memutuskan bahwa dia tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaannya jika dia terus berlama-lama di tempatnya berada sekarang. Ia pun mengarahkan langkah kakinya berjalan langsung menuju ke arah hutan.

Satu demi satu dedaunan hutan disibakkan. Derap langkah kaki terus menapak di kelembaban tanah hutan dan kini langkah kaki itu telah menjadi teramat berat untuk dipaksa terus melangkah. Pemuda itu kemudian memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon besar nan rindang. Dia duduk di antara akar-akar pohon yang menjalar. Tidak beberapa lama ia pun tertidur.